Haruaki berjalan mengelilingi area festival, memperhatikan para pemilik stand yang sibuk menghias kios mereka serta memasang lentera-lentera raksasa.. Suasana itu terasa begitu hidup hingga tanpa sadar membuatnya tersenyum sendiri.

Namun langkahnya terhenti ketika melihat dua orang pendeta berdiri di sudut kuil dengan wajah pucat dan gelisah.

“Bagaimana ini… dia belum keluar juga dari kamar mandi…” gumam salah satu pendeta sambil mondar-mandir.

“Aku sudah bilang tadi itu bukan jamur matsutake…” balas pendeta lainnya tak kalah panik.

Haruaki mendekat dengan bingung. “Eh? Ada masalah apa?”

“Pendeta yang seharusnya memimpin upacara memakan jamur liar yang tumbuh di pinggir jalan…” jawabnya lemas. “Dan sekarang dia sakit perut parah.”

Pendeta satunya melirik jam dengan wajah semakin pucat. “Gawat… upacaranya sudah hampir dimulai…” Lalu ia menatap Haruaki dengan tatapan memelas. “Aku dengar keluargamu menjaga kuil, benar?”

“Hah? Iya… tahu dari mana?”

Kedua pendeta itu saling berpandangan sejenak. Detik berikutnya, mereka langsung menyeret Haruaki pergi.

Di sisi lain, Ranmaru dan Douman berdiri di tengah keramaian para makhluk yang berkumpul untuk menyaksikan upacara pembukaan festival.

“Baru lihat keramaiannya aja udah bikin capek…” keluh Ranmaru sambil melirik sekeliling.

“Semoga upacaranya berjalan lancar tanpa hambatan,” ujar Douman tenang dengan kedua tangan terlipat di depan dada.

Ranmaru tiba-tiba membeku. “Tunggu… Acchan, lihat itu.” Matanya membelak kaget saat melihat ke arah tempat upacara. “Itu Sei—bukan, tunggu… Haruaki-kun?!”

image.png

Haruaki berjalan memasuki area upacara mengenakan kimono khusus pendeta kuil. Di tangannya terdapat persembahan berupa ikan segar. Auranya terlihat berbeda, dia terlihat lebih elegan saat ini.

image.png